Bukan karna hidup yang kalah oleh kehendak, tetapi hidup tidak boleh sunyi, maka dari itu ramaikan dengan membaca, Sebab Membaca merupakan salah satu perpanjangan ingatan dan imajinasi,
Tuesday, December 17, 2019
Antara Cinta dan Nafsu
Tentang Cinta dan Nafsu
Cinta adalah ketertarikan hati pada hal-hal yang dianggap baik, indah, nikmat dan sempurna. Yakni, objek cinta adalah kebaikan, keindahan, kenikmatan, kebahagiaan dan kesempurnaan. Sebaliknya, objek benci adalah keburukan, kesengsaraan, derita dan ketidaksempurnaan.
Sayyid Kamal Haidari, dalam bukunya Makrifatullah, mengatakan; cinta adalah akibat dari pengetahuan dan sebab dari kematian. Yakni, cinta lahir dari pengetahuan, dan cinta melahirkan kematian.
Ini benar, sebab manusia hanya mencintai apa yang diketahuinya sebagai kesempurnaan, kebaikan, kebahagiaan dan kenikmatan. Manusia rela mati demi meraih semua itu.
Pun sebaliknya, manusia hanya membenci hal yang diketahuinya sebagai keburukan, penderitaan, kesengsaraan dan ketidaksempurnaan. Manusia juga rela mati demi menghindari semua itu.
Sesuatu yang hakikatnya baik, nikmat, bahagia dan kesempurnaan, tidak akan dicintai, bila manusia tak mengetahuinya. Begitu juga, sesuatu yang hakikatnya adalah keburukan, derita, kesengsaraan dan ketidaksempurnaan, tidak akan dibenci, bila manusia tak mengetahuinya.
Oleh karena itu, sebelum mencinta, penting untuk mendiagnosa mana kebaikan dan mana keburukan, mana kenikmatan dan mana kesengsaraan, mana kebahagiaan dan mana derita, mana kesempurnaan dan mana ketidaksempurnaan. Penting untuk meningkatkan kualitas pengetahuan.
Dan disinilah urgensi akal. Manusia harus menggunakan akalnya untuk mengetahui mana kesempurnaan substansial dan mana kesempurnaan aksidental; mana kebahagiaan abadi, dan mana kebahagiaan temporel; mana kenikmatan level rendah, dan mana kenikmatan level tinggi.
Jangan sampai, karena rendahnya pengetahuan dan liburnya akal, akhirnya kita mencintai dan rela mati dalam mengejar kenikmatan level rendah, kebahagiaan temporel dan kesempurnaan aksidental. Jika benar demikian, maka cinta kita adalah cinta buta; yaitu cinta yang tak dilandasi oleh cahaya akal.
Sebagai contoh; jika kita mencintai perempuan, lantaran kita mengetahui bahwa perempuan menawarkan kenikmatan fisikal, maka cinta kita kepadanya adalah cinta pada kenikmatan level rendah, cinta emosional.
Dan, bila kita mencintainya karena kita tahu bahwa dia menawarkan kenikmatan pengetahuan, maka cinta kita kepadanya adalah cinta pada kenikmatan level tinggi, cinta rasional.
Maka berhati-hatilah, jangan sampai engkau membenci manusia yang berilmu, hanya karena dia berparas buruk. Jangan jadikan kenikmatan level rendah, sebagai neraca mencinta, sebab itu disebut nafsu.
Pada tataran yang lebih tinggi, nafsu adalah segala bentuk cinta transaksional. Dengan kata lain, nafsu adalah engkau mencintai dengan harapan beroleh sesuatu darinya, baik itu kenikmatan level tinggi maupun kenikmatan level rendah. Sebab ujung dari cinta transaksional adalah diri.
Cinta yang tersucikan dari nafsu adalah cinta murni, yaitu cinta yang melenyapkan wujud pecinta, dan yang tersisa adalah wujud kekasih. Ujung dari cinta murni adalah kekasih dan kehendak kekasih, sebab diri dan kehendak diri telah meniada. Seperti kisah budak yang dikisahkan Fariduddin Attar berikut;
Alkisah seorang Raja membeli seorang budak. Kepada budak barunya, Sang Raja bertanya;
Nama kamu siapa?
Namaku adalah apa yang tuan panggilkan kepadaku.
Makanan kamu apa?
Makananku adalah apa yang tuan berikan kepadaku.
Pakaian kamu apa?
Pakaianku adalah apa yang tuan pakaikan kepadaku
Apa keinginanmu?
Keinginanku adalah apa yang tuan inginkan.
Lihatlah, cinta murni adalah level hamba. Dan hamba adalah dia yang tak memiliki kehendak di hadapan maulanya.
Atau seperti kisah Majnun yang mengetuk pintu rumah Laila. Pintu tak akan terbuka, Majnun tak akan diizinkan masuk, selama Majnun masih mendaku. Berikut kisahnya;
Suatu ketika Majnun mengetuk pintu rumah Laila.
Laila bertanya; siapa di luar?
Aku, jawab Majnun.
Laila berkata; pergi dan datanglah esok hari lagi.
Keesokan harinya, Majnun kembali datang, mengetuk pintu rumah Laila.
Siapa di luar? Tanya Laila.
Aku, jawab Majnun.
Lagi-lagi Laila menyuruh Majnun pulang, dan mempersilahkannya datang esok lagi.
Berhari-hari hal ini terulang. Majnun tak pernah diizinkan masuk ke rumah Laila.
Hingga di suatu hari, Majnun datang lagi dan mengetuk pintu.
Siapa diluar, tanya Laila.
ENGKAU, jawab Majnun.
Masuklah, jawab Laila kemudian.
Yah, cinta murni adalah level Majnun, level kematian, pecinta kehilangan eksistensinya di hadapan eksistensi kekasihnya.
Walhasil, cinta tanpa natsu adalah ketika engkau mencintai kekasihmu tanpa mengharap sesuatu darinya. Engkau mencintainya, karena engkau menemukan dirinya memang layak tuk dicinta, engkau menghamba kepadanya, karena engkau menemukan dirinya memang layak tuk dipertuhan.
Cinta murni juga mesti dinaungi oleh cahaya akal. Dengan begitu, diri tidak terjebak pada wujud terbatas, diri akan terarahkan pada kekasih sejati, wujud nirbatas. Sebab tak ada wujud yang paling layak dicinta dan dipertuhan, kecuali Dia yang paling sempurna dari yang sempurna. Tak ada kekasih yang paling layak dijadikan kekasih, kecuali Dia yang paling pengasih diantara yang pengasih.
Apalah artinya menggila dan rela mati dalam cinta, bila yang digilai adalah wujud terbatas. Gilailah Dia sang wujud nirbatas, seperti Majnun meggilai Laila.
*~Alfit Lyceum*
#salamharmonisasi
Subscribe to:
Post Comments (Atom)

👍❤️
ReplyDelete